Laman

Anyeonghaseo !! ^^

Anyeonghaseo !! Welcome to My World ! I'm An ELF, Always love Super Junior, Have Fun with our blog ^^

Selasa, 16 September 2014

Apalah Arti Kelemahan (Cerpen)

~Apalah Arti Kelemahan~

Author ~ Kim Vikqry
Genre ~ Sad, Family
Cast~ Vey, Daniel

      Angin dingin di pagi hari menerpa wajahku dengan lembut, aku menghirup udara pagi dengan begitu antusias. Tak lama, mamaku membawakan sarapan pagi untukku dan menyuapiku. Kami adalah keluarga yang bahagia, menurutku. Tapi mungkin mama tidak merasakan apa yang aku rasakan, dia selalu menangis jika melihat kehidupan keluarga ini. Aku hanya bisa tersenyum manis didepan mamaku agar dia tetap tabah dan sabar menghadapi cobaan ini. Iya.. perkenalkan, namaku Vey, aku hanya tinggal dengan mamaku 5 tahun terakhir ini.Tragedi kecelakaan 5 tahun lalu yang membuat ayahku  meninggal dan membuatku lumpuh.

“Vey… ayo kita masuk” ajak mama
“hmm… baik ma” ucapku sambil memutar kursi rodaku
Didalam rumah ~
“Vey, ada yang ingin mama bicarakan kepadamu”
“iya… ada apa ma?” tanyaku
“apakah kau tidak ingin melanjutkan sekolahmu nak? Apakah kau tidak ingin menggapai cita-citamu itu?”
“sudahlah mama… aku tidak ingin memikirkan hal bodoh itu lagi” ucapku sambil pergi meninggalkan mama
“Vey… mama hanya ingin kau sukses nantinya nak” ucap mama sambil menangis

      Mungkin kalian berfikir aku adalah anak yang tidak patuh terhadap orangtua, tapi inilah aku, itu adalah luapan hatiku, sekolah adalah tempat menyeramkan untukku, disana aku hanya mendapat cacian dan makian dari teman-temanku, jadi lebih baik aku memilih untuk tidak bersekolah lagi. Cita-cita ku mungkin tidak akan tercapai jika aku seperti ini, tapi biarlah, aku sudah tidak ingin menggapai semua itu, biarlah seperti ini kehidupanku.

      Seperti biasa, setiap pagi aku selalu duduk di depan terasku. Tak lama, ada mobil masuk ke rumah yang dijual di depan rumahku. Aku bingung, apakah rumah itu sudah ada yang beli? Akupun menjalankan kursi rodaku dan mendekati pagar melihat siapakah penghuni rumah baru itu. Ternyata benar, sudah ada yang membeli rumah itu. Saat aku akan memutar kursi rodaku untuk masuk kerumah, penghuni baru rumah itu menghampiriku.

“hey, nona… tunggu sebentar” ucap seorang pria dibalik pagar rumah
Akupun terkejut dan memutar kembali kursi rodaku menghadap pagar
“bisa minta tolong tidak?” Tanya pria itu
“apa?” ucapku singkat
“bisakah kalian sekeluarga mampir kerumahku nanti malam? Aku penghuni baru rumah itu… salam kenal ^^ namaku Daniel” senyum pria itu kepadaku
“aku.. Vey”
“salam kenal Vey, tolong bilang kepada orangtuamu untuk datang nanti malam kerumahku yah :D kau juga harus datang.. sampai jumpa” ucap pria itu yang langsung pergi
“cihh… sok kenal” ucapku sambil masuk kedalam rumah


      Aku pun memberitahu mamaku tentang undangan pria itu, dan mamaku sangat antusias untuk datang tapi tidak dengan aku, aku tidak ingin keluar kemana-mana… Mamaku pun pergi ke rumah baru itu dan akupun dirumah

“selamat datang…” sambut orangtua Daniel
“terima kasih sudah mengundang saya…” ucap mama
“tapi.. dimana Vey?” Tanya Daniel
“ohh.. maaf,dia tidak mau datang… dia selalu seperti itu” jelas mama
“baiklah.. bolehkah saya main kerumah tante?” Tanya Daniel
“boleh saja… Vey ada dirumah” ucap mama
“Terima kasih”

Daniel langsung bergegas menuju rumahku~
Mama lupa mengunci pagar rumah, jadi Daniel bebas masuk kerumahku, saat aku menonton TV, ada yang mengetuk pintu rumah, terpaksa aku bukakan

“halo… “ ucap Daniel sambil tersenyum
“k..kau??!!” ucapku gugup
“maaf, aku masuk kerumahmu dan mengagetkanmu”
“tapi bagaimana bisa kau….” Ucapku bingung
“ahh… pintu pagarmu tadi terbuka dan aku sudah ijin mamamu untuk kesini…” jelas Daniel
“masuklah…”

      Daniel pun masuk kerumahku,aku membuatkannya minum dan berbincang-bincang diruang tamu…

“wahh.. rumahmu bagus juga” ucap Daniel sambil meminum jus nya
“terima kasih”
“apakah kalian hanya tinggal berdua disini?”
“iya” jawabku singkat
“oh iya… panggil saja aku Niel yah .. hehehe” ucap Daniel
“hmm..”
“hei.. kenapa kau ini? ayolah.. kita kan sudah berteman” ucap Niel
“baiklah.. sudah diam, kau berisik sekali”
“hehe.. nah gitu dong, kau harus tersenyum ,oke… “ ucap Niel sambil mengelus rambutku

      Saat berbincang-bincang, tiba-tiba Niel berdiri dan menuju ke sudut ruangan, ia terus berjalan, aku bingung dengan tingkahnya, aku terus melihatnya kemana arah berjalannya. Dan sampailah ia pada sebuah piano milikku yang sudah lama tidak aku pakai.

“Vey.. ini punyamu?” Tanya Niel
“hmm… ada apa?”
“bolehkah aku memainkannya?” Tanya Niel
“jangan… jangan pernah kau memainkan itu” ucapku dengan sadis
“Vey… ayolah”
“JANGAN !” teriakku
Daniel sontak terkejut dengan apa yang aku lakukan, ia menghampiriku dan menenangkanku
“dengarkanlah aku bermain, hmm?” ucap Niel

      Aku hanya terdiam dan tidak mau memandang Daniel. Daniel pun menuju piano itu dan mulai bermain … Aku mulai mendengar piano yang dimainkan Daniel.. pikiranku tiba-tiba tidak terkendali,aku mulai memikirkan kejadian 5 tahun itu lagi, mataku sangat bingung, keringat dingin pun keluar, akupun menangis… hatiku terasa sesak dan sakit, aku menangis lagi dan lagi.. aku menutup telingaku, aku tidak mau mendengarkan tapi tetap saja terdengar.. tangisku pun pecah.. dan Niel langsung menghentikan permainannya dan menghampiriku

“Vey ! Vey ! kau kenapa?”
“pergi !! aku bilang pergi !!!!” teriakku kepada Niel
“Vey….”

      Daniel pun pergi meninggalkanku… aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.. aku sangat bingung, aku membutuhkan mama sekarang.. aku tidak mau bertemu dengan Niel lagi, aku tidak mau. Mamapun datang menemuiku dan menenangkanku.
      
Niel sangat bingung, dia merasa sangat bersalah. Keesokan harinya, dia pun mengunjungi rumahku lagi, kali ini ia bertemu dengan mamaku.

“maaf tante atas kejadian kemarin” ucap Niel kepada mama
“tidak apa-apa nak… ini tidak sengaja”
“tapi kenapa dia seperti itu tante…mungkin aku bisa membantunya?” ucap Niel
“5 tahun lalu, Vey dan ayahnya akan pergi ke kontes Pianist, Vey akan mengikuti lomba itu… saat dalam perjalanan, mereka kecelakaan dan ayah Vey pun meninggal dan Vey menderita kelumpuhan, saat itu juga dia sangat benci dengan musik, dia tidak mau mengenal musik lagi” jelas mama
“astaga… aku melakukan hal yang sangat salah, maafkan aku tante”
“tidak apa-apa nak… Vey,dulunya adalah anak yang sangat optimis, dia sangat ingin menjadi pianist terkenal… cita-cita nya sangat tinggi, tetapi setelah insiden itu, bahkan dia tidak ingin melanjutkan sekolah musiknya dan menjauh dari orang-orang disekitarnya, karena bagi dia sangat mustahil menggapai cita-citanya dengan keadaan yang seperti itu”
“Tante… bolehkah aku membantu Vey untuk menggapai cita-cita itu kembali?” Tanya Niel
“apakah kau sanggup nak?”
“akan aku usahakan tante… jadi ijinkan aku untuk membantu Vey” tegas Niel
“baiklah nak…. Semoga berhasil”

      Daniel pun masuk kerumah untuk menemuiku, aku sedang berada di dalam kamar berdiam diri dan Niel pun tiba-tiba masuk.

“Vey… aku membawakan makan untukmu” ucap Niel
“dimana mama?”
“mamamu ada kepentingan mendadak tadi, jadi aku disuruh untuk menyiapkan sarapan untukmu” jelas Niel
“kenapa kau kesini lagi?” ucap Vey dingin
“ahh…makanannya mau dingin, ayo dimakan” ucap Niel sambil menyodorkan piring
Aku hanya diam~
“oh iya.,.. aku lupa,aku akan menyuapimu.. aaaa” ucap Niel sambil menyuapi ku

      Akupun membuka mulutku dan makan, setiap hari Niel datang kerumahku, berbincang denganku, membantuku dan menghiburku. Walaupun aku tidak suka banyak orang disekitarku,tapi aku sangat nyaman dengan Daniel. Aku dan Niel pun menjadi teman baik, aku sudah mulai tidak canggung lagi dengan orang, aku tidak mempedulikan keadaanku saat ini karena Niel.

“Vey.. ada yang ingin aku bicarakan kepadamu” ucap Niel sambil berhenti mendorong kursi rodaku
“apa?”
“ayo kita melanjutkan kuliah..hm?” ucap Niel
“aku tidak mau”
“kenapa Vey? Kita akan melakukannya bersama, aku akan terus disampingmu, hm?” ucap Niel meyakinkan
“apakah aku pantas untuk bersekolah lagi?” tanyaku
“memangnya kenapa? Semua orang punya hak untuk menuntut ilmu”
“tapi dengan keadaan seperti ini….” ucapku ragu
“kau punya hak Vey… dan aku akan membantumu” jelas Niel

      Niel dan Vey pun mendaftar ke kampus yang sama dan jurusan yang sama. Semenjak Vey kenal Niel dia berubah sangat pesat, dia mau bersekolah dan mulai kembali seperti dulu lagi. Mereka mengambil jurusan musik dan khusus di piano.

“aku tidak bisa Niel” ucapku sambil menjauh dari piano
“cobalah Vey.. hilangkan trauma mu itu…” ucap Niel
“kau??!! Tahu tentang itu…”
“hmm… maaf Vey, aku tidak bermaksud ikut campur, tapi aku hanya ingin membantumu melewati hal yang sulit ini” jelas Niel
Aku tiba-tiba menangis, tidak tahu kenapa hatiku terasa sesak dan teringat wajah ayahku waktu itu yang sangat senang mengantarku ke kontes piano itu.
“Vey… sudahlah..” ucap Niel sambil memelukku
“aku ….. akan mencoba” ucapku sambil menaruh jari-jariku di atas piano
“hmm…kau bisa”

      Akupun mencoba memainkan Piano itu, aku mulai dengan menekan satu not, seketika seperti kilat, otakku langsung mengingat semua nada yang berawal dari not itu, aku pun melanjutkan memainkan piano itu. Daniel sontak terkejut dan terdiam melihatku bermain, setelah selesai bermain aku langsung menjauh dari piano itu…

“aku….tidak bisa” ucapku
“Vey ! Kau bisa.. kau hebat Vey ! “ ucap Niel
Aku hanya terdiam dan terus melihat piano itu…
“Vey… aku ingin memberitahumu sesuatu” ucap Niel
“apa?”
“aku juga sempat sepertimu dulu…” jelas Niel
“maksudmu?”
“ aku dulu juga sempat terpuruk seperti dirimu, aku tidak ingin melanjutkan cita-citaku lagi, hidup ini sepertinya sia-sia.. piano yang ada dirumahku, ku hancurkan semua. Aku depresi” jelas Niel
“Niel.. kau…kenapa?” Tanya Vey
“gendang telinga ku tidak berfungsi dengan baik… gendang telingaku telah rusak”
“apa?” ucapku lemah
“hmm… saat dokter memvonis seperti itu, aku sangat depresi, bagaimana tidak, jika gendang telingaku rusak aku tidak akan bisa lagi mendengarkan nada-nada… aku sangat terpuruk saat itu”
“tapi, kenapa sekarang kau bisa?” tanyaku
“aku mencoba bangkit dari keterpurukan hidupku ini, setiap orang punya kelemahan, tapi kelemahan itu tidak menghalangi jalanku untuk menggapai cita-citaku… aku terus meyakinkan diriku seperti itu, jadi dengan usaha yang sangat kuat, sekarang aku bisa kembali lagi bermain musik” cerita Niel
“tapi, bagaimana kau bisa mendengar nada-nada itu?”
“karena Piano adalah alat musik yang paten, bermain piano hanya membutuhkan menghafal not nya dan nada-nada itu akan muncul dengan sendirinya..” jelas Niel
“jadi…. Kau dulu juga seperti aku?” tanyaku
“hmm.. tentu saja, menurutku lebih parah penyakitku daripada kau, telingamu masih normal, tanganmu masih lengkap, hanya saja cara berjalanmu dengan kursi roda, itu tidak jadi masalah Vey, setiap orang punya hak untuk bahagia”
“jadi ini alasan kenapa kau ingin membantuku?” tanyaku
“hmm, aku ingin orang yang merasakan sakit sama sepertiku bisa tersembuhkan” jelas Niel
“terima kasih Niel.. sudah berada disisiku selama ini” ucapku
“orang normal belum tentu bisa melakukan apa yang kita lakukan Vey, jadi mulai sekarang kita harus menggapai cita-cita kita , janji?” ucap Niel sambil mengulurkan jari kelingkingnya kepadaku
“baiklah… janji” ucapku sambil melingkarkan jari kelingkingku kepada Niel
      
Vey dan Niel terus berusaha menjadi yang terbaik, kami berangkat kuliah bersama, belajar bersama dan sampai akhirnya kami berdua terpilih sebagai murid terbaik di kampus , aku dan Niel pun dikirim ke Swiss untuk mengikuti lomba pianist dan dengan kerja keras, kami memenangkan lomba itu   Karena aku dan Niel memenangkan kontes pianist internasional di Swiss waktu itu, kami jadi terkenal, dan sekarang kami dikenal dengan duo pianist terbaik didunia .
      
Sampai akhirnya, aku dan Niel mengadakan konser kami dan mengundang para orangtua kami. Banner acara kami sudah terpampang disepanjang jalan. “Special concert with Vey and Niel” tulisan itu yang membuat mamaku menangis seketika setelah membacanya. Aku menghampiri mamaku di belakang panggung.
“mama…” ucapku
“ah.. iya nak? Ada apa?” ucap mama sambil mengusap air matanya
“kenapa mama menangis?”
“mama sangat bahagia nak… mama tidak menyangka kau bisa sukses seperti ini” ucap mama sambil memelukku
“maafkan Vey ma, Vey sudah menjadi anak yang tidak penurut di masa lalu”
“tidak nak, kau tidak bersalah… terima kasih Vey..” ucap mama sambil mengelus rambutku
“aku akan membahagiakan mama sampai sisa akhir hidupku”

      Aku dan Niel pun menampilkan penampilan terbaik kami, dan stand applause pun kami dapatkan dari para penonton. Kami sangat senang.

      Dan inilah akhir dari kehidupanku yang menyedihkan dan juga membahagiakan ini, aku tidak berfikir aku bisa sukses seperti ini, ini semua berkat Niel dan usahanya untuk membangunkanku dari keterpurukan hidup dan memberiku sebuah kekuatan untuk bangkit kembali. Apalah arti kelemahan jika kita terus memikirkan kedepan, terus memikirkan masa depan, maka kelemahan yang kita punya itu tidak akan bisa menghalangi kita untuk meraih cita-cita yang kita impikan. Jadi, berusahalah menggapai cita-cita kalian selagi kalian masih kuat dan bisa untuk mewujudkan impian kalian.




“setiap orang punya kelemahan, tapi kelemahan itu tidak menghalangi jalanku untuk menggapai cita-citaku”


THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar