~Apalah
Arti Kelemahan~
Author ~ Kim Vikqry
Genre ~ Sad, Family
Cast~ Vey, Daniel
Angin dingin di pagi hari menerpa
wajahku dengan lembut, aku menghirup udara pagi dengan begitu antusias. Tak
lama, mamaku membawakan sarapan pagi untukku dan menyuapiku. Kami adalah
keluarga yang bahagia, menurutku. Tapi mungkin mama tidak merasakan apa yang
aku rasakan, dia selalu menangis jika melihat kehidupan keluarga ini. Aku hanya
bisa tersenyum manis didepan mamaku agar dia tetap tabah dan sabar menghadapi
cobaan ini. Iya.. perkenalkan, namaku Vey, aku hanya tinggal dengan mamaku 5 tahun
terakhir ini.Tragedi kecelakaan 5 tahun lalu yang membuat ayahku meninggal dan membuatku lumpuh.
“Vey… ayo kita masuk” ajak
mama
“hmm… baik ma” ucapku sambil
memutar kursi rodaku
Didalam rumah ~
“Vey, ada yang ingin mama
bicarakan kepadamu”
“iya… ada apa ma?” tanyaku
“apakah kau tidak ingin
melanjutkan sekolahmu nak? Apakah kau tidak ingin menggapai cita-citamu itu?”
“sudahlah mama… aku tidak
ingin memikirkan hal bodoh itu lagi” ucapku sambil pergi meninggalkan mama
“Vey… mama hanya ingin kau
sukses nantinya nak” ucap mama sambil menangis
Mungkin kalian berfikir aku adalah anak yang tidak patuh
terhadap orangtua, tapi inilah aku, itu adalah luapan hatiku, sekolah adalah
tempat menyeramkan untukku, disana aku hanya mendapat cacian dan makian dari
teman-temanku, jadi lebih baik aku memilih untuk tidak bersekolah lagi.
Cita-cita ku mungkin tidak akan tercapai jika aku seperti ini, tapi biarlah,
aku sudah tidak ingin menggapai semua itu, biarlah seperti ini kehidupanku.
Seperti biasa, setiap pagi aku selalu duduk di depan terasku.
Tak lama, ada mobil masuk ke rumah yang dijual di depan rumahku. Aku bingung,
apakah rumah itu sudah ada yang beli? Akupun menjalankan kursi rodaku dan
mendekati pagar melihat siapakah penghuni rumah baru itu. Ternyata benar, sudah
ada yang membeli rumah itu. Saat aku akan memutar kursi rodaku untuk masuk
kerumah, penghuni baru rumah itu menghampiriku.
“hey, nona… tunggu sebentar”
ucap seorang pria dibalik pagar rumah
Akupun terkejut dan memutar
kembali kursi rodaku menghadap pagar
“bisa minta tolong tidak?”
Tanya pria itu
“apa?” ucapku singkat
“bisakah kalian sekeluarga
mampir kerumahku nanti malam? Aku penghuni baru rumah itu… salam kenal ^^
namaku Daniel” senyum pria itu kepadaku
“aku.. Vey”
“salam kenal Vey, tolong
bilang kepada orangtuamu untuk datang nanti malam kerumahku yah :D kau juga
harus datang.. sampai jumpa” ucap pria itu yang langsung pergi
“cihh… sok kenal” ucapku
sambil masuk kedalam rumah
Aku pun memberitahu mamaku tentang undangan pria itu, dan
mamaku sangat antusias untuk datang tapi tidak dengan aku, aku tidak ingin
keluar kemana-mana… Mamaku pun pergi ke rumah baru itu dan akupun dirumah
“selamat datang…” sambut
orangtua Daniel
“terima kasih sudah mengundang
saya…” ucap mama
“tapi.. dimana Vey?” Tanya
Daniel
“ohh.. maaf,dia tidak mau
datang… dia selalu seperti itu” jelas mama
“baiklah.. bolehkah saya main
kerumah tante?” Tanya Daniel
“boleh saja… Vey ada dirumah”
ucap mama
“Terima kasih”
Daniel langsung bergegas
menuju rumahku~
Mama lupa mengunci pagar rumah,
jadi Daniel bebas masuk kerumahku, saat aku menonton TV, ada yang mengetuk
pintu rumah, terpaksa aku bukakan
“halo… “ ucap Daniel sambil
tersenyum
“k..kau??!!” ucapku gugup
“maaf, aku masuk kerumahmu dan
mengagetkanmu”
“tapi bagaimana bisa kau….”
Ucapku bingung
“ahh… pintu pagarmu tadi
terbuka dan aku sudah ijin mamamu untuk kesini…” jelas Daniel
“masuklah…”
Daniel pun masuk kerumahku,aku membuatkannya minum dan
berbincang-bincang diruang tamu…
“wahh.. rumahmu bagus juga”
ucap Daniel sambil meminum jus nya
“terima kasih”
“apakah kalian hanya tinggal
berdua disini?”
“iya” jawabku singkat
“oh iya… panggil saja aku Niel
yah .. hehehe” ucap Daniel
“hmm..”
“hei.. kenapa kau ini?
ayolah.. kita kan sudah berteman” ucap Niel
“baiklah.. sudah diam, kau
berisik sekali”
“hehe.. nah gitu dong, kau
harus tersenyum ,oke… “ ucap Niel sambil mengelus rambutku
Saat berbincang-bincang, tiba-tiba Niel berdiri dan menuju ke
sudut ruangan, ia terus berjalan, aku bingung dengan tingkahnya, aku terus
melihatnya kemana arah berjalannya. Dan sampailah ia pada sebuah piano milikku
yang sudah lama tidak aku pakai.
“Vey.. ini punyamu?” Tanya
Niel
“hmm… ada apa?”
“bolehkah aku memainkannya?”
Tanya Niel
“jangan… jangan pernah kau
memainkan itu” ucapku dengan sadis
“Vey… ayolah”
“JANGAN !” teriakku
Daniel sontak terkejut dengan
apa yang aku lakukan, ia menghampiriku dan menenangkanku
“dengarkanlah aku bermain,
hmm?” ucap Niel
Aku hanya terdiam dan tidak mau memandang Daniel. Daniel pun
menuju piano itu dan mulai bermain … Aku mulai mendengar piano yang dimainkan
Daniel.. pikiranku tiba-tiba tidak terkendali,aku mulai memikirkan kejadian 5
tahun itu lagi, mataku sangat bingung, keringat dingin pun keluar, akupun
menangis… hatiku terasa sesak dan sakit, aku menangis lagi dan lagi.. aku
menutup telingaku, aku tidak mau mendengarkan tapi tetap saja terdengar..
tangisku pun pecah.. dan Niel langsung menghentikan permainannya dan
menghampiriku
“Vey ! Vey ! kau kenapa?”
“pergi !! aku bilang pergi
!!!!” teriakku kepada Niel
“Vey….”
Daniel pun pergi meninggalkanku… aku tidak bisa berkata apa-apa
lagi.. aku sangat bingung, aku membutuhkan mama sekarang.. aku tidak mau
bertemu dengan Niel lagi, aku tidak mau. Mamapun datang menemuiku dan
menenangkanku.
Niel sangat bingung, dia merasa sangat bersalah. Keesokan
harinya, dia pun mengunjungi rumahku lagi, kali ini ia bertemu dengan mamaku.
“maaf tante atas kejadian
kemarin” ucap Niel kepada mama
“tidak apa-apa nak… ini tidak
sengaja”
“tapi kenapa dia seperti itu
tante…mungkin aku bisa membantunya?” ucap Niel
“5 tahun lalu, Vey dan ayahnya
akan pergi ke kontes Pianist, Vey akan mengikuti lomba itu… saat dalam
perjalanan, mereka kecelakaan dan ayah Vey pun meninggal dan Vey menderita
kelumpuhan, saat itu juga dia sangat benci dengan musik, dia tidak mau mengenal
musik lagi” jelas mama
“astaga… aku melakukan hal
yang sangat salah, maafkan aku tante”
“tidak apa-apa nak…
Vey,dulunya adalah anak yang sangat optimis, dia sangat ingin menjadi pianist
terkenal… cita-cita nya sangat tinggi, tetapi setelah insiden itu, bahkan dia
tidak ingin melanjutkan sekolah musiknya dan menjauh dari orang-orang
disekitarnya, karena bagi dia sangat mustahil menggapai cita-citanya dengan
keadaan yang seperti itu”
“Tante… bolehkah aku membantu
Vey untuk menggapai cita-cita itu kembali?” Tanya Niel
“apakah kau sanggup nak?”
“akan aku usahakan tante… jadi
ijinkan aku untuk membantu Vey” tegas Niel
“baiklah nak…. Semoga
berhasil”
Daniel pun masuk kerumah untuk menemuiku, aku sedang berada di
dalam kamar berdiam diri dan Niel pun tiba-tiba masuk.
“Vey… aku membawakan makan
untukmu” ucap Niel
“dimana mama?”
“mamamu ada kepentingan
mendadak tadi, jadi aku disuruh untuk menyiapkan sarapan untukmu” jelas Niel
“kenapa kau kesini lagi?” ucap
Vey dingin
“ahh…makanannya mau dingin,
ayo dimakan” ucap Niel sambil menyodorkan piring
Aku hanya diam~
“oh iya.,.. aku lupa,aku akan
menyuapimu.. aaaa” ucap Niel sambil menyuapi ku
Akupun membuka mulutku dan makan, setiap hari Niel datang
kerumahku, berbincang denganku, membantuku dan menghiburku. Walaupun aku tidak
suka banyak orang disekitarku,tapi aku sangat nyaman dengan Daniel. Aku dan
Niel pun menjadi teman baik, aku sudah mulai tidak canggung lagi dengan orang,
aku tidak mempedulikan keadaanku saat ini karena Niel.
“Vey.. ada yang ingin aku
bicarakan kepadamu” ucap Niel sambil berhenti mendorong kursi rodaku
“apa?”
“ayo kita melanjutkan
kuliah..hm?” ucap Niel
“aku tidak mau”
“kenapa Vey? Kita akan
melakukannya bersama, aku akan terus disampingmu, hm?” ucap Niel meyakinkan
“apakah aku pantas untuk
bersekolah lagi?” tanyaku
“memangnya kenapa? Semua orang
punya hak untuk menuntut ilmu”
“tapi dengan keadaan seperti
ini….” ucapku ragu
“kau punya hak Vey… dan aku
akan membantumu” jelas Niel
Niel dan Vey pun mendaftar ke kampus yang sama dan jurusan yang
sama. Semenjak Vey kenal Niel dia berubah sangat pesat, dia mau bersekolah dan
mulai kembali seperti dulu lagi. Mereka mengambil jurusan musik dan khusus di
piano.
“aku tidak bisa Niel” ucapku
sambil menjauh dari piano
“cobalah Vey.. hilangkan
trauma mu itu…” ucap Niel
“kau??!! Tahu tentang itu…”
“hmm… maaf Vey, aku tidak
bermaksud ikut campur, tapi aku hanya ingin membantumu melewati hal yang sulit
ini” jelas Niel
Aku tiba-tiba menangis, tidak
tahu kenapa hatiku terasa sesak dan teringat wajah ayahku waktu itu yang sangat
senang mengantarku ke kontes piano itu.
“Vey… sudahlah..” ucap Niel
sambil memelukku
“aku ….. akan mencoba” ucapku
sambil menaruh jari-jariku di atas piano
“hmm…kau bisa”
Akupun mencoba memainkan Piano itu, aku mulai dengan menekan
satu not, seketika seperti kilat, otakku langsung mengingat semua nada yang
berawal dari not itu, aku pun melanjutkan memainkan piano itu. Daniel sontak
terkejut dan terdiam melihatku bermain, setelah selesai bermain aku langsung
menjauh dari piano itu…
“aku….tidak bisa” ucapku
“Vey ! Kau bisa.. kau hebat
Vey ! “ ucap Niel
Aku hanya terdiam dan terus
melihat piano itu…
“Vey… aku ingin memberitahumu
sesuatu” ucap Niel
“apa?”
“aku juga sempat sepertimu
dulu…” jelas Niel
“maksudmu?”
“ aku dulu juga sempat
terpuruk seperti dirimu, aku tidak ingin melanjutkan cita-citaku lagi, hidup
ini sepertinya sia-sia.. piano yang ada dirumahku, ku hancurkan semua. Aku
depresi” jelas Niel
“Niel.. kau…kenapa?” Tanya Vey
“gendang telinga ku tidak
berfungsi dengan baik… gendang telingaku telah rusak”
“apa?” ucapku lemah
“hmm… saat dokter memvonis
seperti itu, aku sangat depresi, bagaimana tidak, jika gendang telingaku rusak
aku tidak akan bisa lagi mendengarkan nada-nada… aku sangat terpuruk saat itu”
“tapi, kenapa sekarang kau
bisa?” tanyaku
“aku mencoba bangkit dari
keterpurukan hidupku ini, setiap orang punya kelemahan, tapi kelemahan itu
tidak menghalangi jalanku untuk menggapai cita-citaku… aku terus meyakinkan
diriku seperti itu, jadi dengan usaha yang sangat kuat, sekarang aku bisa
kembali lagi bermain musik” cerita Niel
“tapi, bagaimana kau bisa
mendengar nada-nada itu?”
“karena Piano adalah alat
musik yang paten, bermain piano hanya membutuhkan menghafal not nya dan
nada-nada itu akan muncul dengan sendirinya..” jelas Niel
“jadi…. Kau dulu juga seperti
aku?” tanyaku
“hmm.. tentu saja, menurutku
lebih parah penyakitku daripada kau, telingamu masih normal, tanganmu masih
lengkap, hanya saja cara berjalanmu dengan kursi roda, itu tidak jadi masalah
Vey, setiap orang punya hak untuk bahagia”
“jadi ini alasan kenapa kau
ingin membantuku?” tanyaku
“hmm, aku ingin orang yang
merasakan sakit sama sepertiku bisa tersembuhkan” jelas Niel
“terima kasih Niel.. sudah
berada disisiku selama ini” ucapku
“orang normal belum tentu bisa
melakukan apa yang kita lakukan Vey, jadi mulai sekarang kita harus menggapai
cita-cita kita , janji?” ucap Niel sambil mengulurkan jari kelingkingnya
kepadaku
“baiklah… janji” ucapku sambil
melingkarkan jari kelingkingku kepada Niel
Vey dan Niel terus berusaha menjadi yang terbaik, kami berangkat
kuliah bersama, belajar bersama dan sampai akhirnya kami berdua terpilih sebagai
murid terbaik di kampus , aku dan Niel pun dikirim ke Swiss untuk mengikuti
lomba pianist dan dengan kerja keras, kami memenangkan lomba itu Karena aku dan Niel memenangkan kontes
pianist internasional di Swiss waktu itu, kami jadi terkenal, dan sekarang kami
dikenal dengan duo pianist terbaik didunia .
Sampai akhirnya, aku dan Niel mengadakan konser kami dan mengundang
para orangtua kami. Banner acara kami sudah terpampang disepanjang jalan.
“Special concert with Vey and Niel” tulisan itu yang membuat mamaku menangis
seketika setelah membacanya. Aku menghampiri mamaku di belakang panggung.
“mama…” ucapku
“ah.. iya nak? Ada apa?” ucap
mama sambil mengusap air matanya
“kenapa mama menangis?”
“mama sangat bahagia nak… mama
tidak menyangka kau bisa sukses seperti ini” ucap mama sambil memelukku
“maafkan Vey ma, Vey sudah
menjadi anak yang tidak penurut di masa lalu”
“tidak nak, kau tidak
bersalah… terima kasih Vey..” ucap mama sambil mengelus rambutku
“aku akan membahagiakan mama
sampai sisa akhir hidupku”
Aku dan Niel pun menampilkan penampilan terbaik kami, dan stand
applause pun kami dapatkan dari para penonton. Kami sangat senang.
Dan inilah akhir dari kehidupanku yang menyedihkan dan juga
membahagiakan ini, aku tidak berfikir aku bisa sukses seperti ini, ini semua
berkat Niel dan usahanya untuk membangunkanku dari keterpurukan hidup dan
memberiku sebuah kekuatan untuk bangkit kembali. Apalah arti kelemahan jika
kita terus memikirkan kedepan, terus memikirkan masa depan, maka kelemahan yang
kita punya itu tidak akan bisa menghalangi kita untuk meraih cita-cita yang
kita impikan. Jadi, berusahalah menggapai cita-cita kalian selagi kalian masih
kuat dan bisa untuk mewujudkan impian kalian.
“setiap
orang punya kelemahan, tapi kelemahan itu tidak menghalangi jalanku untuk
menggapai cita-citaku”
THE
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar